Tupai dan Ranting


Gumpalan kulit kulit jeruk yang disusun hingga membentuk bola, kini ditendang kesana kemari. Berpindah dari kaki Kancil, Kambing, Monyet, dan kaki-kaki binatang lain. Kedua tim saling mengumpan, tackle, berebut bola dan mengincar area di antara dua tongkat yang tertancap ke tanah sebagai gawang musuhnya.

Monyet terus berlari kencang, melewati Kambing, Bebek dan Ayam dengan atraksi akrobatnya. Ke kanan dan ke kiri dalam waktu sekejap, terkadang ia melompat untuk menghindari tackle dari lawan. Kini hanya tinggal Tupai yang berada di depannya. Tupai tengah bersiap menjaga gawang bagaimanapun caranya.

“Terimalah tembakanku. Tendangan super Monyet!”

Gumpalan kulit jeruk yang semula hanya menggelinding di atas rerumputan, kini meluncur kencang ke arah gawang Tupai.

“Dengan tanganku yang sekecil ini, tembakan kencang seperti itu bagaimana aku bisa menghentikannya?” Tupai berpikir keras.

Kemudian dia memutuskan untuk melompat tinggi, sehingga binatang lain mengira Tupai telah menyerah dan lompatannya hanya sebagai upaya Tupai untuk menghindar agar dirinya tidak terluka.

Tupai yang berada di udara, menggulung badannya sendiri, ekornya ia posisikan ke arah bawah, menghadap tanah, membentuk suatu lingkaran yang menyerupai corong.

Tupai yang semula dikira hanya berusaha menghindar, ternyata justru menangkap gumpalan kulit jeruk dengan menjatuhkan badannya di atasnya. Bentuk bulatan corong yang ia buat dari ekornya, tepat mengenai gumpalan kulit jeruk sehingga lajunya terhenti dan gol tidak jadi tercipta.

Tim Tupai terselematkan, dan seluruh kawannya bersorak gembira.

“Kau hebat sekali, Pai. Aku tidak menyangka kau akan menahan laju bolanya dengan cara seperti itu!”

“Mwehehe, itu hanya kebetulan.” Tupai hanya bisa tertawa sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa.

“Pokoknya kamu keren, Pai!” seru Kancil.

“Iya, sepertinya aku akan mencobanya juga, dengan sayapku yang lebar ini!” Ayam tak mau kalah. Ia langsung melompat ke atas, salto sambil mengepakkan sayapnya.

“Ayo teman-teman, kita lanjutkan lagi pertandingannya!” seru Kelinci.

“Ehmm, anu, saya pamit dulu ya!” ujar Tupai meminta izin. Kemudian, ia langsung pergi meninggalkan lapangan.
***

“Kenapa ya, Tupai sering sekali pulang duluan ketika kita main?” tanya Monyet.

“Saya juga penasaran, sudah kesekian kalinya dia seperti itu.” jawab Bebek.

“Bagaimana kalau kali ini, kita udahan saja juga, yuk. Kita ikutin saja si Tupai, dan lihat sebenarnya dia ngapain sih?” usul Kelinci.

“Setuju!”

Demi menjawab rasa penasaran mereka, maka pertandingan yang rencananya akan dilanjutkan, kini dihentikan.
***

“Psstt! Pelankan suara langkah kaki kalian!” seru Monyet yang berada di barisan paling depan.

Semua binatang mengangguk.

Mereka semua kini bersembunyi di balik sebuah pohon randu besar. Tepat di belakang randu itu lah, Tupai berada.

“Eh ngapain itu Tupai gigitin batang kayu?” ucap Monyet.

“Ah masa sih? Pasti kau salah lihat. Pasti yang sedang Tupai gigit adalah biji kenari kan?” tanya Bebek tidak percaya.

“Beneran! Buat apa saya bohong. Itu yang digigit Tupai beneran kayu!”

“Mana, mana, mana?” Binatang lain pun akhirnya turut penasaran dan ingin melihat dengan mata kepala mereka sendiri.

Satu persatu kepala kawan-kawan binatang, muncul dari balik batang pohon randu, mereka saling berdesak-desakkan hingga akhirnya justru jatuh saling tumpang tindih satu sama lain.

“Aduh, misi pengintaian kita gagal deh!” seru Bebek.

“Gausah ngomongin misi, kamu bangun dulu dari atas tubuhku!” protes Monyet.

“Adududuh!”

Saking terkejutnya, Tupai refleks langsung berlari menaiki pohon.

“Eh ternyata kalian? Kenapa kok tumben mau main kemari?”

“Eh anu, sebenarnya kami penasaran kenapa sih akhir-akhir ini kau sering pamit duluan ketika main, apa sih yang kamu lakukan, Pai? Tadi monyet bilang ia lihat kau menggigiti kayu? Monyet bohong kan?”

“Bener kok, Monyet tidak bohong!” jawab Tupai.

Tupai membuka mulutnya lebar-lebar, menampakkan jelas dua gigi depannya yang menonjol.

“Nih beberapa sayatan kayunya masih di mulutku.”

“Wah gila kau, Pai! Baru kamu aja yang kutahu Tupai menggigiti kayu!”

Semua binatang menganggukkan kepala, setuju.

“Mwehehehe,” Tupai hanya menjawabnya dengan tawa cekikikan, tak lupa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Sejak hari itu, ketika Tupai pamit sebelum waktu main mereka usai, teman-temannya sudah mengerti apa yang akan dilakukan Tupai.

“Mau gigit kayu lagi, Pai?” Pertanyaan pura-pura itu selalu diikuti gelak tawa dari binatang-binatang lainnya. Tanpa perlu dipertanyatakan, sebenarnya juga semua binatang sudah tahu alasan Tupai selalu pamit duluan.

Hal itu berlangsung lama, sangat lama. Agar tidak mengganggu kegiatan lain seperti membantu ibunya, merawat pohon kenari dan yang lainnya, Tupai mulai bangun lebih pagi daripada binatang yang lain agar tetap bisa menggigiti ‘kayu’nya.
***

Ketika Tupai berusia lanjut, ia mengunjungi hutan yang baru, tempat dimana kawan Kelincinya tinggal. Hutan itu belum pernah ia datangi, dan tak seekor binatang pun yang mengenal dirinya.

Kelinci kawannya pun belum terlihat ujung telinga panjangnya, Tupai akhirnya memutuskan untuk bersantai di bawah pohon randu yang rindang sembari menikmati desiran angin.

Sembari bersantai, ia kemudian memungut sebatang ranting di sampingnya dan mulai mengigitinya.

Batang ranting tak beraturan kini berubah menjadi bentuk ulat bulu yang indah. Seekor monyet yang sejak dari tadi mengamatinya merasa terkagum dan menghampiri Tupai.

“Tunggu, boleh saya minta ranting yang barusan kamu buat? Saya akan bayar!”

“Tentu!” jawab Tupai sambil memandangi monyet di depannya, terdapat satu sisir pisang matang di tangannya. “Kau bisa membelinya dengan sebidang tanah yang ditanami sepuluh batang pohon pisang.”

Mendengar hal tersebut, si Monyet memegangi kepala dengan kedua tangannya, takut terjatuh ke bawah karena saking kagetnya dengan harga yang Tupai sebutkan.

“Tapi saya dari tadi melihatnya, dan kau hanya butuh waktu lima belas menit untuk membuatnya.”

Tupai berdiri, menepuk-nepuk seluruh tubuhnya agar debu yang menempel di tubuhnya berterbangan.

“Anda salah, Tuan.” Jawab Tupai, “Saya perlu lima belas tahun untuk membuat ini.”

Tupai mulai pergi meninggalkan monyet tersebut. Ia berjalan menghampiri kawan Kelincinya yang sudah mulai terlihat ujung telinga panjangnya.
*****


Gambar dari sini

No comments:

Post a Comment