Petang itu, ketika jamaah sudah berangsur-angsur keluar dari
pintu mushola, dua orang laki-laki tengah duduk mengobrol satu sama lain
sembari mengenakan kaos kaki dan sepatu.
“Sepertinya tadi jumlah rokaatmu kelebihan satu. Soalnya
kita mulainya barengan, tapi ketika salam, kau malah berdiri lagi.” tanya salah
satu lelaki itu kepada lelaki yang lain di sampingnya.
“Kau benar, tadi pikiranku berkecamuk sana sini tentang
pekerjaan.” jawab lelaki yang lain.
“Sebenarnya kenapa sih kok bisa tentang pekerjaanmu sampai
terbawa ke sholatmu? Apa sebegitu pentingnya pekerjaanmu itu?”
Belum sempat yang ditanya menjawab, lelaki tersebut
melanjutkan penjelasannya.
“Maksudku, untuk mendapatkan uang yang sangat banyak, kah?
Agar memiliki harta yang melimpah ruah?”
Kali ini, lelaki yang ditanya hanya terdiam. Melihatnya
wajahnya yang seperti itu, si lelaki yang bertanya melanjutkan lagi apa yang
ingin ia sampaikan.
“Aku kerja kesana-kemari, bahkan sampai ke arab Saudi, sertifikasi
ke ini-itu. Bukan bermaksud untuk menggurui atau apa. Hanya ingin berbagi.
Karena saya mendapati bahwa harta kita ternyata belum tentu milik kita.”
Lelaki yang ditanya mengernyitkan dahi.
“Maksudmu ada harta fakir miskin dan lain-lain? Aku sudah
sering dengar tentang itu.”
“Syukurlah kalau kau sudah sering dengar. Uang yang kau
miliki di bank, perusahaan yang kau dirikan, mobil mewah yang kendarai, pakaian
mahal yang kau kenakan. Apa semua itu akan dibawa mati?”
Ia menggelengkan kepala.
“Apa semua yang kau miliki itu, adalah pasti milikmu? Belum
tentu. Bisa saja tiba-tiba perusahaanmu diambil alih oleh orang lain. Bisa juga
tiba-tiba pulang dari sini, uangmu yang begitu banyak itu dirampok oleh orang
lain dan sebagainya. Itulah mengapa kusebut hartamu belum tentu milikmu.”
“Berarti kita sejatinya tidak memiliki apa apa terkait harta
yang kita miliki?”
“Tidak juga, ada harta yang benar-benar sudah pasti menjadi
milik kita.”
“Apa itu?”
“Harta yang kau makan, dan harta yang telah kau sedekahkan.
Harta itu benar-benar menjadi milikmu.”
Tubuh lelaki yang ditanya, berdesir, ia terdiam, mencoba
mencerna perkataan seseorang yang baru ia temui hari ini itu.
“Aku setuju!” ia berucap mantap. Setelah itu, muncul
sumringah dari wajahnya. Seolah ia telah menemukan sesuatu.
“Tapi kan kita belum mati?” tanyanya kepada lelaki yang
bertanya.
“Maksudmu?”
“Kau kan tadi bilang kalau harta yang kumiliki, uang, mobil,
perusahaan tidak akan dibawa mati. Tapi aku masih hidup, jadi aku masih butuh
itu.”
Lelaki yang bertanya mengangkat tangannya tinggi, ia
kemudian mengayunkannya dengan keras, bukan kepada temannya, tapi ke arah
jidatnya sendiri.
“Alamakjang!”

No comments:
Post a Comment