Tikus dan Pangeran

Tikus dan Pangeran

              Seorang anak mengenakan jubah dan mahkota emas, berlari kesana kemari mengejar kelinci-kelinci putih untuk ia tangkap. Anak tersebut bernama Pangeran, dan karena dia adalah anak dari raja Kerajaan Comal, maka orang-orang di kerajaan memanggilnya Pangeran Pangeran (ingat ya Pangerannya dua kali, satu untuk gelarnya dan satunya untuk namanya, tapi karena saya bukan rakyat kerajaan Comal, saya akan menyebut Pangerannya satu kali saja).

              Seperti semua Pangeran di kerajaan-kerajaan lain, maka keinginan Pangeran akan segera dipenuhi saat itu juga. Pangeran meminta kelinci, tak berapa lama akan ada prajurit yang membawakannya. Pangeran meminta anggur, maka selir-selir kerajaan akan langsung menghidangkannya. Apapun permintaan Pangeran, akan segera dikabulkan oleh Raja. Apapun, kecuali satu hal.

              Pergi ke luar tembok istana.

              Sang Raja tidak mengizinkan Pangeran untuk keluar dari istana dengan alasan demi menjamin kebahagiaan serta menjauhkan anaknya dari kesedihan dan keburukan-keburukan.

              “Di luar sana, hanya ada monster-monster yang berbahaya, kotor, bertaring, kakinya dipenuhi lumpur, menjijikan, makanya Ayah membangun dinding-dinding tinggi menjulang di sekeliling istana kita.” Tutur sang Raja kepada anaknya pada sekali waktu.

              Mulanya, Pangeran memang merasa takut sampai badannya merinding ketika mendengarnya. Namun, lama waktu berselang, kelinci tak bisa lagi menghiburnya, memanjat pepohonan yang dipenuhi buah-buah tak mampu lagi memunculkan rasa senangnya dan segala sesuatu yang berada di istana, membuat dirinya bosan.

              “Ketika ayah bercerita tentang dunia di luar tembok, apakah itu benar?”

              Maka pada suatu malam, Pangeran mengendap-endap keluar melewati gerbang tinggi menjulang. Ia sudah mengamati dari lama, kapan penjaga-penjaga gerbang akan berganti giliran berjaga.

              Pangeran berlari-lari kecil, sambil terus memegang tudung kepala untuk menyembunyikan wajahnya.

              “Akhirnya saya bisa keluar juga!” ujar lirih Pangeran yang setelah melewati gerbang, langsung bersembunyi di semak-semak.

              Tanah yang ia injak, tergenang oleh air dan berlumpur, bangunan-bangunan berjejer-jejer dengan cahaya yang redup. Meskipun tidak seterang seperti di Istana, namun orang-orang saling berbicara satu sama lain, ramai tawar menawar, bau-bau masakan semerbak memenuhi udara, teriakan-teriakan dari pedagang bersaut-sautan.

              Pangeran melangkah lebih jauh lagi, dan ia melihat seorang kakek tua yang kurus kerontang sedang duduk di pinggiran jalan sambil menyodorkan mangkuk plastik kepada para pejalan kaki yang lalu lalang.

              Pangeran melangkah lebih jauh lagi, dan ia melihat seorang anak kecil seumurannya bersama adiknya tidur di emperan hanya dengan beralaskan kardus. Kedua anak kecil itu, meringkuk. Kedinginan.

              Pangeran tidak pernah melihat yang seperti ini dari dalam istana, dan apa yang ia lihat sekarang mengganggu pikirannya.
***

              Beberapa penjaga terlihat bergerombol untuk mencari keberadaan pangeran yang diketahui telah kabur dari istana. Begitu Raja sadar, ia mengerahkan hampir seluruh pasukan untuk mencari ke sudut-sudut kota.

              Raja begitu takut bagaimana kalau anaknya menyadari bahwa ceritanya tentang monster-monster di luar tembok hanyalah sebuah karangan, kebohongan. Demi menutupinya, Raja merasa harus cepat-cepat menemukannya sebelum anaknya melihat banyak lagi kebohongannya.
***

              Pangeran merapatkan lagi tudung kepalanya, dan berbelok memasuki gang untuk menghindari para penjaga istana yang sedang mencari dirinya. Ia berlari sambil terus menengok ke belakang, hingga tak sadar kakinya menyandung sebuah tong sampah. Pangeran terjerembab di atas tanah penuh kubangan.

              Ia berdiri, dan mendapati di depannya adalah gang buntu dan ia merasa terganggu akan suatu hal.

              Bukan karena tembok buntunya yang tinggi menjulang, toh tembok di istananya jauh lebih tinggi dari yang ada di depannya sekarang. Ia merasa terganggu, sampai badannya menggigil ketakutan dengan segerombolan makhluk.

              Ia memiliki empat kaki, di kaki-kakinya dipenuhi lumpur, air hitam got, tubuhnya penuh dengan rambut-rambut hitam legam berlumuran kotoran. Ekornya panjang, badannya gempal, dan hidungnya mengendus-endus ke kiri dan ke kanan, kadang juga kelangit seperti sedang mencari sinyal.

              Makhluk itu tidak hanya satu, tapi belasan. Ada yang sedang berdiri di atas tong sampah, ada yang sedang mencabik-cabik plastik sampah, dan ada pula yang baru keluar dari selokan-selokan.

              “Apa mungkin ini yang ayah maksudkan monster itu?”

              Monster-monster itu mengendus-enduskan hidungnya ke langit, dan mereka seolah-olah melihat ke arah pangeran yang sedang terjerembab di tanah (hanya perasaan pangeran saja yang merasa ditatap oleh monster-monster karena perasaan takutnya yang teramat sangat). Dua monster mendekati pangeran yang kini sudah tidak bisa lagi bergerak karena gemetaran.

              Pangeran pingsan.
***

              “Aku dimana?” Pangeran terbangun dengan memegangi kepalanya yang masih terasa berkunang-kunang.

              “Kau sudah berada di istana lagi, Nak! Para penjaga menemukanmu tergeletak di suatu gang. Bukankah ayah sudah bilang, bahwa kau jangan keluar dari istana.”

              “Ayah, semalam pangeran melihat monster-monster yang selalu ayah ceritakan, Pangeran takut ayah!” Pangeran langsung memeluk ayahnya dengan mengucurkan air mata.

              “Monster? Seperti apa monster itu?”

              Pangeran menceritakan detil-detil monster yang ia lihat. Seberapa kotor ia, seberapa menakutkan tatapannya, tubuhnya yang gempal, ekornya yang memanjang, hidungnya yang bersungut, dan kebiasaannya yang suka mengendus-endus. Pangeran bahkan bercerita tentang monster yang terlihat seperti mendekatinya dan berusaha menggigitnya.

              “Sudah tenang, Nak, akan Ayah perintahkan seluruh prajurit untuk membasmi monster-monster itu. Oh tidak, tidak hanya prajurit, Ayah juga akan memerintahkan seluruh rakyat kerajaan kita untuk memburunya, bahkan Ayah akan memberikan imbalan untuk tiap monster-monster tersebut. Sehingga Ayah yakin tak akan ada lagi monster yang mengganggumu di kerajaan kita.”

              “Terima kasih, Ayah!”
***


              Setelah kejadian yang menimpa sang Pangeran, maka Raja membuat pengumuman barangsiapa yang berhasil menangkap dan membuang tikus-tikus yang berada di kerajaannya, maka ia akan diberikan imbalan untuk tiap ekornya.

              Ya, monster yang Pangeran maksud itu adalah tikus-tikus besar yang sering muncul di got dan tempat kotor lainnya.

              Orang tua kurus yang kesehariannya menadahkan mangkuk untuk minta receh dari pejalan kaki, kini bangun dan ikut berusaha menangkap tikus-tikus itu. Anak kecil dan adiknya yang Pangeran lihat tidur di emperan dengan kardus juga ikut tak mau kalah. Semua penduduk sejak saat itu mulai beralih profesi menjadi pemburu-pemburu tikus.

              Pada mulanya, hal tersebut memang mengurangi jumlah tikus yang berkeliaran secara drastis.  Hari demi hari, jumlah tikus-tikus terus berkurang, selain itu tikus-tikus yang masih tersisa merasa enggan untuk keluar dari sarang. Mereka takut bila keluar dari tempat persembunyian, tangan-tangan rakyat yang memburu imbalan siap menyergap mereka setiap saat.

              Sepertinya rencana Raja berhasil.
***

              “Aduh bagaimana ini? Mulai semakin sulit untuk menemukan tikus-tikusnya. Kalau begini terus kita tidak akan mendapatkan imbalan lagi.”

              “Iya, bisa gawat!”

              “Betul!”

              “Apalagi, sekarang tikusnya pinter. Mereka sepertinya cuman keluar di tempat-tempat yang yakin tidak ada orangnya, sudah begitu lari mereka semakin cepat, apa tikus-tikus sekarang menjalani diet ya sehingga jadi kurusan?”

              “Masak tikus diet, kau aja tidak diet-diet!”

              Sebuah tinju melayang ke arah bapak yang menyinggung soal diet tadi. Obrolan-obrolan di warung makan mulai mengkhawatirkan jumlah tikus yang semakin berkurang.

              “Bagaimana kalau kita ternakin saja tikusnya? Jadi kita tidak perlu takut lagi kehabisan tikus!”

              “Ide bagus!”

              “Pinter juga, ternyata tidak cuman badanmu yang gendut, otakmu juga!”

              Lelaki yang diejek, reflek menendang, tidak terima.

              Semua penghuni warung tertawa terbahak-bahak melihat drama saling mengejek antara kedua lelaki dewasa tersebut.
***

              Sebagian besar orang masih mencari-cari tikus yang kian sulit ditemukan. Sebagian lagi tetap mencari, hanya saja tidak langsung diserahkan ke pihak kerajaan untuk mendapatkan imbalannya, mereka menyimpannya, memberinya makan dan mengembang-biakkannya.

              Waktu demi waktu berjalan, Raja yang sempat merasa tikus-tikus kerajaannya sudah berkurang, kini merasa terheran-heran. Karena jumlah tikus yang disetorkan mulai bertambah, bertambah dan bertambah lagi.

              “Hei, bukankah semakin sering ditangkap, lama kelamaan harusnya tikus itu akan habis, kan?”

              Maka demi memenuhi rasa penasarannya, dan demi melihat anaknya ceria lagi setelah trauma dengan kejadian pingsan melihat tikus-tikus, sang Raja berjalan-jalan keluar istana.

              Tidak jauh ia melangkah keluar istana, matanya disuguhkan dengan pemandangan berpetak-petak peternakan tikus. Peternakan-peternakan yang kini dimiliki oleh banyak orang. Beberapa dibangun dari lahan yang luas, dan rakyat-rakyat yang tidak punya tanah, membuat peternakan-peternakan tikus mini seolah seperti peternakan ayam rumahan.

              Raja merasa tercengang melihatnya.

              “Jikalau tiap tikus ini harus dibayar, berapa banyak yang harus istana keluarkan sebagai imbalan?”

              Maka besoknya Sang Raja membuat pengumuman baru, bahwa tikus-tikus yang ditangkap tidak akan diberikan imbalan lagi.

              Perburuan tikus dengan imbalan, dihentikan.
***

              “Tikus-tikus ini sudah tidak berguna lagi,” keluh si pemilik ternak tikus.

              “Iya, kalau tidak ada imbalan lagi untuk tikus-tikus ini, buat apa kita ternak lagi?” keluh peternak yang lain.

              Merasa tikus sudah tidak seberharga dulu, maka para penduduk merasa kebingungan mau diapakan tikus-tikus yang ada di peternakan, dan pada akhirnya mereka lepaskan tikus-tikus itu begitu saja.

              Tikus yang berkeliaran di kerajaan menjadi sangat banyak, seolah Raja memberikan upah kepada bertambahnya jumlah tikus, meskipun tujuan Raja adalah untuk menguranginya.

              Tikus itu sangat banyak, jauh lebih banyak daripada jumlah tikus-tikus sebelum kejadian Pangeran pingsan.
***

              Purnama bersinar terang, rerumputan di dalam istana bergoyang-goyang terkena desiran angin malam. Di bawah tembok tinggi menjulang, terdapat sebuah lubang yang dari dalamnya masuk monster-monster.

              Rerumputan yang bergoyang, ia injak begitu saja. Kelinci yang tengah terlelap, ia lewati begitu saja. Monster-monster itu terus menerus berjalan menyusuri seluruh sudut istana kerajaan.

              Bagi monster-monster itu, tempat di luar sudah begitu sesak, dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk mencoba masuk menerobos ke dalam dinding yang selama ini tak sekalipun pernah terjamah oleh mereka.

              Mereka sudah memasuki sebuah kamar, di atas sebuah meja dekat tempat tidur, tersaji anggur-anggur  dan daging ayam yang tidak termakan. Mereka mengendus-ngendus, dan tentu aroma-aroma makanan sisa di atas meja menarik penciumannya.

              Para monster berpesta pora.

              Di samping meja, mata seorang anak berkedut-kedut karena tidurnya terganggu dengan suara-suara.

Seorang anak yang tertidur dengan memakai jubah dan mahkota emas di kepalanya.

Ketika ia membuka mata, monster itu terlihat meskipun sekarang ia berada di dalam istana.


Tubuhnya tak bisa bergerak, hanya memejamkan matalah yang ia bisa. Dari sudut mata yang dipaksakan terpejam, mengalir air mata dan suara sesunggukan. Anak itu berharap monster-monster yang berada tepat di depan matanya hanyalah mimpi buruk belaka.
*****





Gambar dari sini 

No comments:

Post a Comment