Ketika Semua Doa Terkabul


         Hari itu bukan hari seperti biasa. Tidak ada satupun orang yang keluar dari rumahnya. Seluruh penduduk dunia tengah bersepakat untuk bersama-sama membuka laptod dan handphone di tangan mereka. Mereka hendak membicarakan perundingan paling penting yang pernah ada. Di sebuah grup chat yang berisi tujuh milyar anggota.

         “Jadi, bagaimana menurut kalian ide tersebut?”

         “Bagus juga, aku punya banyak doa dan sampai sekarang aku merasa belum terkabul juga.”

         What a nice idea!”

         “Kita nanti malam, seluruh penduduk dunia serempak memohon satu hal saja. Berdoa untuk satu permintaan saja. Kita berdoa agar semua doa penduduk dunia dikabulkan.”

         “Sure, it will be a nice world jika setiap doa bisa dikabulkan.”
         “Aku tidak yakin itu ide bagus. Aku sudah memperingatkan kalian lho yaa.”

         “Sirik aja, lu. Bukan ide bagus bagaimana coba. Kan enak kalau setiap doa kita bisa terjawab dan menjadi kenyataan.”

         Malam itu, seluruh penduduk dunia duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangan. Memohon satu hal kepada Tuhan.

         “Tuhan, tolong kabulkan setiap doa dari setiap penduduk dunia.”

         Petir menggelegar meskipun tak ada satupun rintik yang jatuh dari langit. Angin bertiup kencang di seluruh permukaan bumi, membuat para penduduknya seketika tergeletak dan terlelap.
***

         Bunyi tangis seorang bayi menjadi pemecah suasana pagi yang sunyi. Penduduk dunia mulai bangun dari tidur setelah bersepakat berdoa bersama-sama di malam kemarin. Berdoa agar semua doa dikabulkan.

         Seorang ibu menatap bayi yang menangis kelaparan. Tidak hanya hari ini, hari kemarin, hari kemarinnya lagi tak pernah ada susu yang mampu ia beli dan dia berikan. Sedih melihat bayinya terus meratap, ia tak sengaja berdoa agar diberikan susu untuk hari ini.

         “Permisi...”

         Seorang penjual susu keliling telah berdiri di depan pintu. Hari ini hari berkah, maka ia berniat untuk memberikan susu yang biasa dia jual kepada mereka yang tidak berlangganan susu di jalur dia biasa berkeliling, Terlebih kepada penduduk yang punya rumah-rumah kecil.

         “Ini, Bu. Susu dari saya, gratis. Semoga bayi ibu sehat ya.”
         “Tapi, Bang? Saya tidak bisa menerima ini begitu saja.”

         “Tak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya boleh minta didoakan untuk istri saya yang sudah hamil tua. Doakan agar rezeki saya cukup untuk biaya lahiran dan merawat adik bayi saya nantinya.”

         “Semoga dilapangkan dan dimudahkan rezekinya ya, Bang.”
         “Aamiin.”

         Penjual susu keliling tersebut beranjak kembali ke sepedanya, hendak menjajakan kembali barang dagangannya.

         “Ehh..” kayuh sepedanya terhenti, sebuah panggilan masuk dari handphone layar hitam di tas pinggang miliknya. Sebuah nomor yang tidak dikenal.

         “Benar ini pedagang susu Pak Amir? Bisa menangani order dalam jumlah besar, Pak?”
         “Bisa, Pak. Mau pesan berapa?”

         “Lima ratus botol tiap hari selama dua bulan, Pak. Diantarkan ke perusahaan saya ya. Ini demi meningkatkan gizi dan kinerja karyawan-karyawan saya. Kan Kalau sehat mereka bakalan lebih produktif. Bisa?”

         Tangan si penjual susu bergetar. Ia kaget sekaligus tidak percaya. Penjual susu itu kini bertanya ulang, mencoba memastikan dengan suara yang terbata-bata.

         “Bapak tidak bercanda, kan?”

         “Oh iya, nanti uangnya akan saya bayarkan dimuka untuk dua minggu dulu ya. Nanti dua minggu kemudian akan saya bayar lagi untuk dua minggu selanjutnya.”
***

         Bagai sebuah air bah yang turun dari dataran tinggi. Cerita mengenai si ibu dengan bayi menangis dan si penjual susu keliling dengan cepat menjadi pembicaraan masyarakat penduduk dunia di grup chat yang berisi tujuh milyar manusia.

         “Apa benar doa mereka terkabul seketika?”
         “Iya. Jangan-jangan doa kita semua terkabul, doa agar semua doa dikabulkan.”
         “Aku yakin seperti itu.”

         Sejak hari itu, semua doa yang terucap benar-benar dikabulkan. Satu dua hari dunia tampak lebih indah. Mereka berdoa agar diberi anak, dan di perut sang perempuan kini tertanam janin. Berdoa memiliki rumah, entah bagaimana skenarionya maka tidak lama tampak jalan untuk menuju ke sana. Semua doa terucap, semua doa terkabulkan.

         Dua bulan berjalan, Mereka menemukan masalah.

         “Saya ingin menjadi orang paling kaya di kota.”

         Maka ia menjadi orang paling kaya di kota. Masalahnya mulai terlihat ketika ada seorang lagi yang berdoa ingin menjadi orang paling kaya di kota yang sama. Dua doa menjadi paling kaya di kota itu sama-sama naik ke atas langit, dan ketika semua doa pasti terkabul, maka siapa yang paling kaya jadinya? Itu menjadi akar masalah.

         Penduduk dunia mulai berpikir untuk menghalangi orang lain berdoa. Apalagi jika doa yang mereka ucapkan adalah doa yang sama dengan milik mereka. Tapi siapa yang tahu orang lain sedang berdoa untuk apa? Maka dari itu, jumlah penduduk yang semula tujuh milyar kini berkurang drastis hingga menjadi dua milyar. Beberapa orang mulai berdoa untuk keburukan orang lain. Mereka bahkan mendoakan kematian penduduk satu kota, satu negara, hanya untuk menjadi gubernur, presiden ataupun orang paling kaya sejagad raya.

         Kelahiran dilarang. Semakin banyak penduduk yang hidup di dunia, maka akan semakin banyak doa yang terucap, yang harus dikabulkan, Semakin banyak doa, maka akan semakin besar kemungkinan doa-doa itu bertubrukan. Bayi-bayi yang baru lahir, dihalangi untuk berdoa, mereka tidak diajarkan demikian.

         Dua tahun menjelang, dan tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi karena doa seseorang.

         “Jadikanlah aku menjadi satu-satunya manusia yang hidup di bumi ini, agar doaku tidak bertubrukan dengan orang lain, agar doaku terkabul semuanya.”


Gambar dari sini


No comments:

Post a Comment