Berulang kali Katak menyapu pandangannya ke segala arah.
Gelap, tak ada warna yang bisa matanya terjemahkan selain apa yang ia sebut
sebagai hitam. Hitam dimana-mana, ia telah mencoba untuk melompat kemanapun,
tapi selalu membentur sesuatu, hingga ia memutuskan menyerah. Bahwa seukuran
itulah dunia yang ia tahu. Sempit dan gelap.
Hingga pada suatu hari, Katak mendengar suara-suara dari
belakang dinding-dinding.
“Apa itu artinya ada dunia lain di belakang sana?”
Katak terus melompat, menabrakkan dirinya ke atas berulang
kali, hingga atap-atap yang ia tabrak mulai terdengar retakan. Semakin ia kuat
melompat, semakin memanjang retakannya.
“Aku sangat penasaran ada apa dibaliknya?”
Katak berharap, yang ada di baliknya adalah sesuatu yang
indah dan penuh warna.
Retakan yang ia buat, kini membentuk lubang. Semakin lama
semakin besar.
“Kalau sudah seukuran itu, pasti muat!” seru Katak.
Ia melompat, lompatan yang membuat seluruh tubuhnya keluar
dari tempurung.
Tapi, apa yang ia lihat tidak seperti yang ia harapkan,
hanya gelap yang Nampak di matanya. Semuanya hitam.
Katak kecewa. Setelah melihat itu semua, dia tidak berusaha
untuk melompat kembali agar tubuhnya keluar, ia memilih meringkuk di dunianya
(tempurungnya) lagi. Tempurung itu bergerak karena dorongan tubuh katak. Lubang
yang katak buat kini menghadap ke bawah, tertutup oleh tanah.
“Ternyata dunia memang hanya hitam saja. Tidak menarik sama
sekali. Lebih baik di sini.”
***
Seekor kelelawar hinggap di hutan yang dipenuhi pepohonan
dengan segala jenis buah-buahan yang bergelantung lebat. Di bawahnya, seluruh tanahnya
dipenuhi hamparan rerumputan dan bunga-bunga warna-warni. Ia masih
bergelantungan, sejak dari tadi ia mengamati sebuah tempurung yang tergeletak
di tanah sembari melahap papaya yang telah matang. Tempurung yang dari dalamnya,
sempat muncul seekor katak.
"Kenapa katak itu tidak pernah muncul lagi?" tanya kelelawar dalam hati. Ia meneruskan memakan pepaya sembari menatap langit.
"Kenapa katak itu tidak pernah muncul lagi?" tanya kelelawar dalam hati. Ia meneruskan memakan pepaya sembari menatap langit.
“Malam ini, sepertinya langit begitu gelap lantaran bulan
bersembunyi di balik awan. Tapi besok, pasti hamparan pohon buah dan
bunga-bunga di sini akan tampak begitu berwarna dan indah seperti biasanya.”
Gambar dari sini

No comments:
Post a Comment