Tong dan Andi




              Di sudut halaman Sekolah Dasar Desa Cilolok, Tong merintih kesakitan. Rasa sakitnya yang teramat sangat membuatnya sampai terus menerus menangis dan mengeluarkan air mata.

              Tong bukanlah manusia, ia adalah sebuah ember tempat manusia seharusnya membuang sampah ke dalamnya. Tong bukanlah manusia, dan ia menderita suatu penyakit aneh yang tak ada satupun manusia pernah terkena penyakit yang diderita Tong sekarang.

              Penyakit itu bernama Anti-Sampah. Penyakit yang membuat Tong akan merasa kesakitan dan ingin menangis ketika ia melihat sampah-sampah berserakan di sekitar dirinya berada. Maka dari itu, ketika tak ada sampah di sekelilingnya, Tong akan merasa sangat bahagia.

              Tapi sayang, ia jarang sekali merasakan kebahagiaan tersebut akhir-akhir ini, karena entah bagaimana, anak-anak yang peduli sampah sudah tidak banyak lagi.

              Sebenarnya Tong sempat berpikir untuk berjalan dan mengambil sampah-sampah itu sendiri dan memakannya hingga bersih. Tapi Tong tidak punya kaki dan tangan, jadi dia tidak bisa berjalan, apalagi memunguti sampah. Maka rasa sakit yang Tong derita, sangat bergantung dengan sebagaimana manusia mau menjaga kebersihannya.

              “Semoga, Tuhan menghadirkan pahlawan yang bisa menyelamatkanku.” Tong berdoa dengan khusyu, sambil memejamkan mata hingga akhirnya ia tertidur.
***

              Bel sekolah berbunyi kencang, pertanda waktu istirahat siswa Sekolah Dasar Cilolok. Anak-anak yang mengenakan seragam putih merah, berhamburan keluar. Mereka menghampiri pedagang-pedagang yang sudah sejak dari tadi sudah siap sedia dengan barang dagangannya.

              Beberapa anak laki-laki duduk-duduk bergerombol di serambi sekolah, bercerita tentang permainan sepakbola yang mereka lakukan kemarin sore. Tak lupa di masing-masing tangan mereka ada jajanan yang mereka makan sambil berbagi cerita.

              “Kalau saja badanmu itu tidak segempal itu, Mbul. Pasti kau bisa mengejar umpan panjang yang kuberikan kemarin, dan pasti gol. Tapi kau malah berhenti dan ngos-ngosan!”

              “Mana ada? Umpanmu aja yang jauhnya nggak ketulungan, mana ada orang yang bisa mengejar umpan sekeras dan sejauh itu!”

              “Sudah-sudah, tapi lebih keren lagi si Andi!”

              “Iya, meskipun kau hanyalah penjaga gawang, tapi kehebatanmu malah mengalahkan striker depan lawan. Berulang kali dia menendang, tembak sana-sini, tak ada satupun bola yang masuk ke gawangmu!”

              “Hehe,” Andi hanya bisa tersenyum sambil pura-pura menggaruk kepalanya.

              Bel tanda istirahat berbunyi, tanda waktu istirahat telah berakhir.

              “Ayo kita masuk!” seru salah satu murid.
              “Eh sebentar, siniin punyamu?” pinta Andi
              “Apanya?”

              Andi mengambil plastik-plastik bekas tempat jajanan teman-temannya satu persatu. Ia mengumpulkannya, dan bergegas berlari ke tempat sampah yang berada di halaman sekolah.

              “Plung!”

              Tong terbangun dari tidurnya karena suara sampah yang dimasukkan ke dalam perutnya.

              Ia membuka mata, dan melihat seorang anak laki-laki bertuliskan nama Andi di dadanya, Tong merasa bahagia.

              Sepulang sekolah, Andi pun berulang kali menunduk untuk mengambil sampah yang berada di tempat ia lewati. Andi mendekati Tong dan memasukkan lagi sampah-sampah itu ke perut Tong. Tong merasa lebih bahagia.

              Andi terus menerus melakukannya, membuang sampah pada tempatnya dan itu membuat sampah-sampah yang berserakan semakin berkurang. Sampah yang berkurang, membuat rasa sakit yang Tong juga terus berkurang.

              Bahkan ketika Andi meminta plastik milik teman-temannya, temannya menolak.

              “Kita tidak mau kau yang membuang ini, kita buang sama-sama sambil adu lari siapa yang bisa sampai ke Tong itu duluan, dia yang menang!”

              Mereka berlari sekuat tenaga, untuk membuang sampah ke perut Tong.

              Tong merasa sangat bahagia.
***

              Hingga pada suatu hari, keluarga Andi dikabarkan pindah kota karena pekerjaan Ayahnya. Tong yang mendengar kabar tersebut, merasa sedih. Tak ada lagi anak laki-laki seperti Andi yang mau membuang sampah pada perut Tong. Tong merasa akan sering kesakitan lagi karena sampah-sampah berserakan seperti dulu-dulu.

              Tapi dugaan Tong salah, anak-anak lain yang sering melihat apa yang Andi lakukan, kini menirunya. Tidak hanya satu dua anak, tapi hampir semua murid di Sekolah Dasar Cilolok.

              “Pantas Andi sering melakukan ini, ternyata membuang sampah pada tempatnya terasa begitu menyenangkan!” seru salah satu anak, dan diikuti anggukan serempak anak-anak lain, pertanda mereka setuju

              “Selain itu, kalau lingkungan bersih, bermain dan belajar pun rasanya jadi semakin nyaman.”

              Tong tak pernah kesakitan lagi, karena lingkungan Sekolah Dasar Cilolok selalu bersih tanpa sampah sedikitpun.

              Tong merasa bersyukur.

              “Sepertinya Tuhan mengabulkan doaku, dengan mengirimkan pahlawan bernama Andi. Dia tidak memakai jubah, dia tidak bisa terbang, larinya tidak seperti petir, dan tubuhnya tidak kuat-kuat amat. Andi hanyalah seorang anak biasa. Tapi Andi adalah pahlawanku, karena ia seorang anak biasa yang selalu membuang sampah pada tempatnya dan menginspirasi teman-temannya untuk melakukan yang sama.”
*****


Gambar dari sini


             


No comments:

Post a Comment