Aku hanya Beruntung


Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah, aku dibilang sebagai murid yang sama sekali tidak punya bakat dalam bidang matematika. Tidak heran orang berpikir seperti itu padaku, karena jika menghadapi soal hitung-hitungan kepalaku serasa pusing, dan kau pasti tahu hasil ulanganku bakalan seperti apa?

Tapi entah apa yang kupikirkan saat itu, ketika diumumkan akan diadakan seleksi untuk mewakili sekolah dalam ajang lomba matematika, aku bersemangat mengikutinya. Aku sadar seperti yang mereka bilang kepadaku, bahwa aku tidak punya bakat untuk matematika. Maka jauh sebelum hari seleksi, aku belajar dan sering bertanya baik kepada kawan maupun guru matematika ku.

Pulang sekolah, malam harinya, hingga aku bangun pagi-pagi untuk berlatih dengan keras mengerjakan soal-soal matematika. Aku tulis besar di dinding kamarku sebuah tulisan penyemangat. Dan ketika aku membacanya, serasa perasaan malas dan pening di kepalaku rontok begitu saja. Kau tentu tak perlu tahu apa tulisan itu. Yang kau boleh tahu, hanya aku sudah berusaha sangat keras untuk bisa lolos mewakili sekolahku.

Dan hasilnya, namaku tidak pernah tertulis di papan pengumuman yang lolos.

Mulanya aku sudah mulai melupakan hal tersebut, kemudian seorang kawanku yang lolos mewakili sekolah ternyata berhasil mendapatkan juara satu pada ajang kompetisi matematika itu. Dan ketika itu dia diwawancarai oleh kawanku.

“Kau bisa sedemikian hebat dalam matematika. Apa rahasianya?”

“Ahh, aku hanya beruntung!” Dia menjawab seperti itu.

Aku bertanya kepadamu. Menurutmu apa yang kurasakan saat itu? Mendengar jawaban “Ahh aku hanya beruntung!”.


 Gambar dari sini

No comments:

Post a Comment