Kiki dan Koko


Ratusan kaki bergerombol di tengah lapangan untuk melihat sepatu heels yang dikenakan Kiki. Sepatu adalah hal yang baru di desa kakikukaku, desa para kaki, apalagi sepatu indah yang kiki Pakai. Mata (kaki) mereka semua tak henti-hentinya berbinar lantaran terkesima dengan indahnya sepatu heels yang dipenuhi jahitan emas dan bertahtakan butiran-butiran permata.

Sejak saat itu, Kiki selalu memakainya kemana-mana dengan rona ceria, riang dan gembira. Hingga semua penduduk kakikukaku bersepakat, bahwa sepatu tersebut memberikan kebahagiaan bagi si pemakainya. Semua kaki berusaha keras mencarinya, berharap bisa menemukannya, dan tak terkecuali dengan Koko.

Koko berlarian kesana-kemari, mencari di semua penjuru, membelah semak-semak rimbun, berjuang keras menemukan sepatu yang lain yang sama seperti punya Kiki.

“Akhirnya, bisa kutemukan juga!” seru Koko senang dengan sepatu persis seperti milik Kiki di tangannya.

Ia masukkan dirinya (kaki) ke dalam sepatu tersebut.

Tidak muat.

Ia paksakan, terus ia paksa hingga seluruh dirinya (kaki) masuk. Ia berjalan ke desa, tapi tidak tampak rona ceria, justru terlihat merintih menahan sakit. Bagian dari dirinya dipenuhi memar dan luka.

“Sepatu yang sama, indahnya sama, ukurannya sama, kenapa malah seperti ini.”

Koko akhirnya memutuskan untuk melepaskan, merelakannya. Ia mengembalikan sepatu tersebut ke tempat semula.

Dalam perjalanan pulang, ia menemukan sandal jepit di bawah pohon randu. Sandal yang tidak diminati banyak kaki.

Ia masukkan dirinya ke sandal tersebut, dan senyumnya merekah. Ukurannya begitu pas dengan dirinya yang besar.

Sejak saat itu, ia selalu tampak cerah, riang dan gembira sama seperti Kiki, meskipun bukan sepatu jahitan emas dipenuhi butiran permata yang ia kenakkan.


Gambar dari sini

No comments:

Post a Comment