Gambar dari sini
Malam itu kupacu motor melewati jalan cilegon
yang berdebu dan dihiasi berbaga bentuk gelombang. Sudah macam laut saja.
Awalnya kupikirjalan menuju tempat tujuanku
akan sepi dan gelap. Ternyata hanya setengahnya saja yang benar. Gelap namun
tidak sepi. Truk bermuatan besar serta bis-bis malam harus menjadi sahabat
perjalanan. Sekalipun aku tidak berani untuk menyatakan permusuhan kepada
mereka
Aku masih memacu motorku dengan kencang.
Kalau tidak, aku tak akan mampu mengimbangi cepatnya motor kawanku di depan
yang melaju seperti kesetanan. Apa lebih cocok kemotoran? Kaca helm yang
dipenuhi goresan, membuat cahaya lampu kendaraan di depan berpendar, sehingga
mau tidak mau kaca helmu harus kubuka dan debu-debu jalanan begitu senang hati
berkontak fisik dengan menabrakkan diri mereka ke mukaku. Sampai papan penunjuk
jalan tidak berhasil menampakkan diri di hadapanku sehingga nyasarlah motor
bututku masuk ke jalur tol.
Kali ini, bukan tentang tujuannya. Bukan pula
bercerita tentang apa saja yang kita lakukan di sana. Aku hanya bermaksud
menceritakan perjalanan.
Lalu, akhirnya tibalah kami di warung dekat
rumah dan terjadilah secuil percakapan yang mengganjal di pikiran.
“Tadi rasa-rasanya kita naiknya pas pulang
santai saja, tapi kok rasanya tiba-tiba sampai tempat ini ya? Kok rasanya lebih
cepat sampai daripada pas berangkat.”
“Itu sudah biasa, pulang terasa lebih cepat
daripada berangkat.”
“Maksudku, jaraknya sama, jalannya juga sama
berdebu dan bergelombang, roda-roda besar dari truk dan bis malam juga banyak.
Tapi tadi pas melihat plang pintu masuk tol cilegon, langsung ngerasa keheranan
saya. Kok tiba-tiba sudah sampai sini.”
“Mungkin juga kau bisa dapat sesuatu bahan
tulisan dari pikiranmu yang mainstream itu.”
“Mainstream sih, tapi kok aneh ya. Aku juga
merasa kok tiba-tiba sudah lulus? Kok tiba-tiba umurku sudah bertambah lagi
bilangan tahunnya? Tak terasa.”
“Mungkin itu artinya juga kau sedang dalam
perjalanan pulang, lulusmu, umurmu itu rangkaian pulang, makanya terasa lebih
cepat. Atau lebih tepatnya malah tidak
terasa sudah terlewati begitu saja.”
“Pulang? Kemana?”
“Memang kemana lagi?”

No comments:
Post a Comment