Dulu, sekitar sepuluh tahun yang yang lalu. Waktu kriminal masih sebatas nyolong sepeda dan nasi aking. Rumah masa kecil ayahku kemasukan maling.
“Woi, baru jam sepuluh kok sudah pada tidur?”, teriak ayahku di sela belajar malamnya.
“Pakdhe belum, le!”
Pakdhe Pur tetangga belakang rumah masih ‘hidup’ rupanya. Sejenak tenang dan mulai belajar lagi, namun ‘Kreekk..’. Pintu belakang bergerak sendiri. Ayahku langsung teriak, “Maliiing..!”
Sekilas rumah gedheg itu jadi ramai dan panik. Terdengar bunyi ‘Gledhak’ kaki tersandung di depan rumah saat orang-orang mengejar maling itu. Sang maling sudah kabur hilanglah lima besek nasi aking di dapur. Malingnya lapar. Jaman itu sembako susah. Mereka maling untuk hidup.
#ngenes
Binatang ternak jadi sasaran empuk maling. Mereka sudah standby jam delapan malam, jongkok di semak pinggir pekarangan untuk beroperasi pencurian tengah malam. Satu yang patut diacungi jempol. Untuk kejahatan macam kelas teri itu, para maling begitu sabar menunggu berjam-jam sampai sang empunya ternak tertidur. Pantang menyerah dan berani mengambil resiko jika ketahuan. Resiko yang mereka ambil adalah ketahuan digebukin warga.
Jam dua belas malam. Mereka mulai jebol kandang. Ambil satu persatu ternaknya. Mereka ahli. Saaangaaat ahli. Ternak itu manut dan tidak bersuara keras yang membuat orang curiga. Tentunya ternak yang dicuri adalah ayam, bukan sapi, kambing atau kerbau ya. #gedhe banget
Memang maling buat makan. Mereka maling buat kenyang.
#fiuh
Suatu siang, ada kerumunan orang ngejar maling sepeda. Orang-orang sekitar kebawa suasana. Ikutan lari dan teriak maling. Sampailah di persimpangan. Mereka bingung. Mana malingnya?
Usut punya usut, si maling ada di tengah kerumunan massa. Kok bisa? Lha, dia juga teriak maling! Jadilah, maling teriak maling. Beruntung ada yang ingat wajah maling itu. Dia diadili dan dibawa ke pihak berwajib.
Mungkin ini awal istilah maling teriak maling.
#duhRobbi..
Waktu kecil, keluarga kami hidup di sebuah komplek. Belakang rumah adalah rumah besar milik orang kaya. Suatu saat, rumah itu ditinggal dinas ke luar kota. Beberapa hari setelah sang empunya pergi, rumah itu jadi ramai. Ada mobil parkir di depannya, ada orang bercanda di dalam rumah, ada yang baca koran di teras pagi-pagi. Waktu ditanya, ternyata mereka saudara sang empunya rumah. Semua warga tenang, ah rumah besar itu ada yang menjaga sekarang.
Seminggu berlalu dan sang empunya pulang dari tugas luar kota. Kepulangannya membuat geger orang sekomplek. #emang orang kaya suka ribet
Dia lapor pak RW kalau rumahnya kemalingan! Lho, kapan? Segitu saudaranya jaga rumah berhari-hari gitu kok? Bukaan! Itu bukan saudaranya. Mereka itu maling. Tidak ada seorang pun yang melihat maling itu ngangkut barang. Semua pekerjaan begitu rapi. Mulai dari strategi, action di lapangan –pura-pura jadi saudara sang empunya-, pembersihan dan pulang. Apa yang dimaling? Semua barang berharga termasuk lemari dan TV.
Setelah ditelusuri, sang maha maling adalah rekan kerja orang kaya itu. Ia maling biar makin banyak timbunan hartanya. Pantes aja tau kalau yang empunya rumah lagi dinas ke luar kota. Dasar maling pinter, maling biar kaya.
#ealah
Maling juga
update status. Mulai dari maling untuk hidup, maling untuk makan, sampai maling untuk kaya. Metodenya juga beda-beda. Mulai dari maling nasi aking yang asal nyolong, maling ayam yang punya strategi dan kesabaran luar biasa, maling sepeda yang teriak maling, sampai maling rumah orang kaya yang tidak terdeteksi identitas malingnya sama sekali berkat kekompakan dan maha strateginya. Transformasi maling kaya itu lanjut dengan atasan-atasan yang korupsi. Makin pinter aja mereka. Maling kelas negara. Maling biar yang udah kaya makin kaya dan yang miskin makin melarat. Terus, sekarang marak jenis maling abnormal yang bangga dengan tindakan malingnya itu. #Lho?
Kurang kerjaan banget sih ngelist maling begitu, jomblo ya?
#Iya nih. Otak ini jadi suka memaknai. Jelas saja, karena enggak ribet ngurusin doi layaknya orang-orang lain yang nggak jomblo.
Lanjut ya tentang maling abnormal.
Sejauh ini sob, yang namanya maling pasti sembunyi-sembunyi biar enggak ketahuan. Tapi, sebagai jomblo sejati, aku turut prihatin dengan mereka yang tidak menyandang gelar ini (jomblo.red) tapi juga tidak menyandang gelar ‘sudah menikah’.
Nggak jomblo, tapi belum nikah. Bingung kan dengan status nggak jelas ini? Jangankan aku atau kalian, di kitab kita aja (Alquran.red) nggak ada status macem begitu. Lalu, manusia membuat istilah sendiri, yang tidak asing di telinga kita. Pacaran. #uhuk
Well, tanpa mengurangi rasa hormat. Setelah dipikir, ini adalah jenis maling dan korban maling ter-ajaib yang ada di dunia.
Gimana nggak, dia memaling cinta.. Sampai cinta sang pacarnya cuma buat dia. Cuma pasangannya yang ada di pikiran dan hatinya. Apa-apa inget dia. Bikin Tuhannya cemburu. Anehnya, yang kemalingan juga bahagia. Dia kemalingan yang sama-sama maling juga. (Duh, blibet!) Selain statusnya yang nggak jelas, penjelasan yang ribet, mereka punya kebiasaan aneh yang tidak lazim dilakukan maling-maling biasanya. Hal itu adalah, mereka enjoy memamerkan status nggak jelasnya nya ke khalayak ramai. Kenapa nggak jelas? Ya, karena tanpa ada status pernikahan di sana.
#maaf ya kalau ada yang kesinggung #dasar jojoba yang nulis
***
Tulisan di atas cuma suara hati aja. Toh, maling cinta tidak akan dipenjara oleh negara. Tapi, terpenjara oleh cinta makhluk bisa membuat manusia jauh dari Allah. Dan jauh dari Allah akan membuat manusia terpenjara dari kenikmatan Allah di hari pembalasan. #waspadalah!
Allah tidak mengurangi cinta dengan hamba yang backstreet dengan orang lain. Justru orang itulah yang menjauh dari Allah.
Percaya deh, Allah cinta dengan hamba yang menjaga perasaan cintanya sampai bertemu dengan cinta yang halal untuknya lewat jalan cinta yang Allah gariskan. #pernikahan
Ah.. ketika semua menjadi jelas di mata manusia dan halal di menurutNya.
Semangat aja mblo! Jomblo bukan tanpa alasan. Jomblo karena Allah, supaya nanti melepas masa jomblo dengan kerihdhaanNya. J
#dasarEluMblo #panjang banget ngepost nya :3
 |
| Photo by Ricardo Gomez Angel on Unsplash |