Bel tanda masuk kelas telah berdentang, Beberapa murid
pun sudah duduk rapi menunggu guru datang menyampaikan materi. Hanya beberapa,
karena mereka yang duduk rapi hanya baris satu dua paling depan. Sedangkan di
barisan paling akhir beberapa murid bahkan masih bermain catur yang belum dapat
keputusan siapa pemenangnya.
“Kau
jaga di depan pintu ya. Bilang kalau Bu Guru sudah keluar dari kantor sekolah.”
Seru seorang murid bernama Salim yang masih terlihat serius menghadapi lawan
satu kelasnya. Mainan catur yang Salim bawa dari rumah ini dilengkapi dengan
magnet, jadi tak akan terjatuh meskipun meja yang digunakan tersenggol sikut
seseorang.
Seorang
anak kecil yang daritadi berjaga di pintu mulai masuk dengan wajah panik.
“Bu,
guru sudah datang!”
Semua
murid kembali ke bangku masing-masing, merapikan baju, bangku dan meletakkan
kedua siku di atas meja. Hanya Salim yang terlihat lebih sibuk dibandingkan
yang lain karena harus membereskan bidak-bidak ke dalam kotak catur.
“Hampir
saja ketahuan Bu Guru. Tapi sial, padahal tinggal sedikit lagi aku pasti
menang, Sim!” seru Salim kepada teman sebangkunya yang bernama Kasim.
“Iya
tadi padahal aku lihat ratumu tinggal makan pion yang di depan raja dan sudah
pasti skakmat, Lim.”
Pakaian
Kasim begitu lusuh, terdapat garis-garis lipatan di bajunya. Tak ada sedikitpun
bekas setrika menggilas kain tersebut karena memang keluarga mereka tidak punya
setrika. Dulu pernah berpikir meminjam tetangga barang sebentar, namun ketika
colokan masuk ke stop kontak, seketika listrik di rumah Kasim padam.
“Sim,
nanti malam kosong? Kita ke alun-alun yuk?”
“Mau
apa, Lim? Ke alun-alun malam-malam? Nanti kalau kita bangun pagi kesiangan
gimana?”
“Kan
besok libur, Sim. Tuh lihat kalender yang ada di tembok, besok sudah harus
diganti karena sudah ganti tahun. Nanti malam langsung aku samperin ke rumahmu
ya!”
Kasim
tidak menjawab. Namun dia juga tidak menggelengkan kepala sebagai tanda tidak
setuju.
***
Salim telah berdiri di depan rumah pintu Kasim. Beberapa
laron terlihat berputar-putar di sekitar nyala lampu kuning yang redup karena
sudah lama tidak diganti. Laron-laron tersebut seakan mengejek si pemilik rumah
yang tak mampu untuk sekadar membeli lampu hemat energi yang baru. Sesuai janji
yang mereka buat tadi pagi, Salim menghampiri Kasim untuk sama-sama pergi ke
alun-alun merayakan malam tahun baru.
“Yuk,
Sim. Kita berangkat. Kalau terlambat, kita tidak kebagian pesta kembang apinya
bisa gawat!” Tangan Kasim telah berada di genggaman Salim. Anak itu terlihat
begitu antusias untuk menghabiskan malam di alun-alun kota bersama kawan-kawan
lain. Mereka telah menunggu di pelataran halaman rumah Kasim. Jarak antara
rumah Kasim dan alun-alun tidak begitu jauh, bisa mereka tempuh dengan berjalan
kaki.
Baru
beberapa langkah mereka berjalan di gang kampung, bunyi gemuruh tiba-tiba
terdengar. Mereka memandang langit, ternyata ia begitu bersih dan dipenuhi
bintang-bintang.
“Tadi
bunyi apa ya?” Kawanan anak-anak itu saling pandang satu sama lain.
Suara
gemuruh itu kembali lagi. Dan semua mata spontan tertuju ke arah Kasim.
“Maaf,
kalian tunggu di sini sebentar ya!” Kasim langsung berlari kembali menuju ke
dalam rumah sambil memegangi perut dengan kedua tangannya.
“Haha,
pasti perut dia sedang mulas sampai larinya seperti itu!”
Kawan-kawan
itu tentu tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan perut Kasim.
“Yuk
berangkat!” Kasim berseru. Sekarang di perutnya terdapat ikatan dengan sarung.
***
“Yang
ini harganya berapa ya, Bang?” tanya Salim kepada penjual terompet yang mangkal
di tepian alun-alun.
“Dua
puluh ribuan, Dek.”
“Kalau
itu yang paling besar? Aku mau beli yang besar biar suaranya yang paling
keras!”
“Tiga
puluh lima ribu, Dek.”
“Siap,
Bang. Aku beli satu ya!”
Kasim
dari tadi justru memandang warung padang tepat di belakang penjual terompet
mangkal. Ia terlihat sedang mengeja menu-menu dan harga yang dipajang di bagian
depan. Rendang, Cumi, Bandeng, Telur, Tahu, Tempe, Ayam ia eja satu per satu.
“Sim,
kau tidak beli terompet atau kembang api?”
“Eh
tidak, Lim.”
“Tenang
saja, Sim. Nanti kau kupinjami terompet punyaku. Terompet paling besar!”
“Makasih,
Lim.” Kasim tersenyum. Ia memandang lagi daftar menu di warung padang, kemudian
menunduk. Sekarang Salim dan teman-temannya telah menggenggam terompet
masing-masing di tangan. Salim bahkan memegang amunisi tambahan berupa kembang
api berukuran sedang.
“Aku
tadi hendak beli yang paling besar juga, Sim. Harganya murah. Nggak ada dua
ratus ribu untuk lima kali ledakan. Murah, Kan? Tapi ya itu, aku lupa bawa uang
banyak-banyak tadi. Sedih aku jadinya.” Seru Salim kepada Kasim kawan baiknya.
“Yuk
duduk di sana saja.” Tunjuk salah satu kawan yang diikuti oleh Salim dan Kasim.
Mereka akhirnya duduk-duduk di bangku semen alun-alun. Menanti detik-detik pergantian
tahun. Satu dua orang mulai membunyikan terompet yang mereka beli. Saling
beradu suara siapa paling keras.
“Eh, yuk
hitung mundur bareng teman-teman.!”
“Lima,
Empat, Tiga, Dua, Satu!” bunyi terompet serempak terdengar. Kembang-kembang api
mulai meluncur ke angkasa. Meledak dan menyebar dengan titik-titik cahaya
warna-warni. Baik Salim, Kasim dan semua orang yang berada di alun-alun
memandang ke atas langit.
“Dueerrr!”
“Satu
bungkus.” desah Kasim pelan.
Salim
menoleh ke arah Kasim sejenak. Memperhatikan kawannya itu menghitung ledakan
kembang api di angkasa dengan diakhiri kata bungkus.
“Dasar ada ada aja cara menghitungmu, Sim, Sim!” Salim
kembali memandang ke langit. Menikmati warna-warni di tengah langit gelap
malam.
***
“Yuk pulang, Sim!” ajak Salim setelah tak ada lagi
kembang api yang meledak-ledak di udara.
Semua
orang yang berada di alun-alun tersebut mulai beranjak pulang, bunyi terompet
sudah tidak seramai ketika jarum menunjukan pukul dua belas malam. Hanya
menyisakan satu dua orang yang sambil lalu melangkah keluar dari alun-alun.
Para pedagang pun mulai menggulung tikar-tikar yang mereka gelar di tanah
lapang tersebut.
“Sim,
Kasim, Yuk pulang!” Salim mengulangi kalimatnya sambil berjalan keluar lapangan
juga. Beberapa kali dia berseru, tapi tak ada tanggapan sama sekali dari
seruannya. Padahal sekitar sepuluh menit yang lalu, Kasim berdiri tepat di
sebelahnya. Maka Salim pun menyapu pandangan ke segala arah.
Kawannya
Kasim ternyata tengah memunguti terompet-terompet yang berserakan ditinggal
pemiliknya.
“Wah,
dasar anak baik kau, Sim!”
Lima
detik kemudian, apa yang Salim lihat sungguh membuat dirinya tercengang.
Terompet-terompet yang berada di pelukan tangan Kasim, ternyata Kasim masukan
satu per satu ke dalam mulut. Kasim kunyah-kunyah dan menelannya.
“Hei,
Sim. Kau sedang apa?” tangan Salim reflek mencengkeram genggaman Kasim yang
hendak memasukan lagi kertas terompet ke dalam mulutnya. Salim berusaha
menghentikan tingkah polah Kasim.
“Aku
sedang makan kertas-kertas seharga nasi rendang!” jawab Kasim sambil terus
menerus mengunyah. Dari sudut matanya ada satu dua tetes air bening. Entah
karena dia sedang bersedih ataukah karena dia kesulitan untuk menelan.
“Dari
tadi aku mencari kembang api tapi tidak ketemu, ingin kumasukkan ke mulutku
juga kembang api itu supaya bisa mengganjal perutku. Aku juga penasaran dengan
rasanya. Jangan jangan dengan harga dua ratus ribuan harganya akan selezat
makanan yang kau sebut pizza.” senyum Kasim kecut.
*****