“Eh tetangga kita yang rumahnya sono noh, baru beli motor pakai
uang gajinya!”
“Eh lebih hebatan lagi rumah di sebelahnya, dia habis beli mobil baru!”
“Aduh, Bu. Memang bakal untung kalau motor dan mobil baru itu dijual lagi? Tidak bakal. Yang ada malah harganya makin turun, makin murah, jadinya kita rugi deh!”
Semua kepala Ibu-Ibu yang mengelilingi tukang sayur itu manggut-manggut, setuju.
“Denger-denger nih, kalau uang berlebih kita biar untung, kita beliin tanah. Siapa sih sekarang yang tidak kepingin beli tanah? Harganya nggak pernah turun, malah naik terus karena peminatnya banyak. Jadi tidak rugilah!”
Kepala Ibu-Ibu tadi mengangguk sekali lagi, juga kepala milik Jon yang kebetulan lewat ikut mengangguk menyetujuinya.
“Ibu itu benar, akhirnya saya punya sesuatu untuk dibelanjakan yang menguntungkan dengan uang sisa tiap bulan yang tidak seberapa ini.”
“Eh lebih hebatan lagi rumah di sebelahnya, dia habis beli mobil baru!”
“Aduh, Bu. Memang bakal untung kalau motor dan mobil baru itu dijual lagi? Tidak bakal. Yang ada malah harganya makin turun, makin murah, jadinya kita rugi deh!”
Semua kepala Ibu-Ibu yang mengelilingi tukang sayur itu manggut-manggut, setuju.
“Denger-denger nih, kalau uang berlebih kita biar untung, kita beliin tanah. Siapa sih sekarang yang tidak kepingin beli tanah? Harganya nggak pernah turun, malah naik terus karena peminatnya banyak. Jadi tidak rugilah!”
Kepala Ibu-Ibu tadi mengangguk sekali lagi, juga kepala milik Jon yang kebetulan lewat ikut mengangguk menyetujuinya.
“Ibu itu benar, akhirnya saya punya sesuatu untuk dibelanjakan yang menguntungkan dengan uang sisa tiap bulan yang tidak seberapa ini.”
***
Jon sudah kesana kemari, bertanya dari satu kepala desa ke kepala desa lain, dari pos ronda ke pos ronda lain, hanya untuk mendapatkan informasi siapa-siapa saja juragan tanah yang hendak menjual tanah mereka.
“Kamu memang punya uang berapa?”
Jawab Jon menyebutkan sebuah nominal.
“Haduh, Pak Jon. Uang segitu mah cuman bisa buat beli tanah seukuran kuburan. Satu kali dua meter, Pak.”
“Itu seperseratus dari luas tanah saya, Maaf ya Pak! Sepertinya kita tidak cocok.” Timpali kembali si pemilik tanah.
Hampir semua pemilik tanah yang ia temui, tidak mau tanahnya ia beli dua meter persegi tiap bulan. Jon tidak mau berhutang, ia hanya akan membeli semampu yang ia bayar.
Tetiba, seorang dengan baju rapi yang mengamati Jon sejak dari tadi, terlihat mendekat.
“Perkenalkan, nama saya Jin. Apa Pak Jon hendak mencari tanah, tapi Cuma punya uang sedikit tapi rutin tiap bulan?”
Jon mengangguk.
“Saya bisa membantu, Bapak. Oh iya kita tinggal di satu desa, Pak. Jadi secara tidak langsung, kita tetanggaan. Saya lihat Pak Jon sudah bertanya kesana-kemari, tapi tak kunjung mendapatkan tanah yang Bapak inginkan, padahal niat Pak Jon buat investasi kan? Siapa sih yang tidak tahu bahwa harga tanah terus menerus mengalami kenaikan, jadi saya piker Pak Jon adalah orang yang cerdas karena telah tepat memilih investasi tanah. Nah kebetulan saya punya tanah di sudut desa kita, karena niat saya hendak mau bantu Pak Jon juga, Pak Jon boleh membayar tanah saya tiap dua persegi tiap bulan.”
“Lho, bisa?”
“Bisa, Pak. Nanti akan saya buatkan pagar sebagai penanda tanah-tanah mana yang sudah Pak Jon bayar!”
“Baiklah, saya setuju. Anda baik sekali, Pak Jin. Saya tidak menyangka ada orang sebaik Anda di dunia ini!”
Jon sudah kesana kemari, bertanya dari satu kepala desa ke kepala desa lain, dari pos ronda ke pos ronda lain, hanya untuk mendapatkan informasi siapa-siapa saja juragan tanah yang hendak menjual tanah mereka.
“Kamu memang punya uang berapa?”
Jawab Jon menyebutkan sebuah nominal.
“Haduh, Pak Jon. Uang segitu mah cuman bisa buat beli tanah seukuran kuburan. Satu kali dua meter, Pak.”
“Itu seperseratus dari luas tanah saya, Maaf ya Pak! Sepertinya kita tidak cocok.” Timpali kembali si pemilik tanah.
Hampir semua pemilik tanah yang ia temui, tidak mau tanahnya ia beli dua meter persegi tiap bulan. Jon tidak mau berhutang, ia hanya akan membeli semampu yang ia bayar.
Tetiba, seorang dengan baju rapi yang mengamati Jon sejak dari tadi, terlihat mendekat.
“Perkenalkan, nama saya Jin. Apa Pak Jon hendak mencari tanah, tapi Cuma punya uang sedikit tapi rutin tiap bulan?”
Jon mengangguk.
“Saya bisa membantu, Bapak. Oh iya kita tinggal di satu desa, Pak. Jadi secara tidak langsung, kita tetanggaan. Saya lihat Pak Jon sudah bertanya kesana-kemari, tapi tak kunjung mendapatkan tanah yang Bapak inginkan, padahal niat Pak Jon buat investasi kan? Siapa sih yang tidak tahu bahwa harga tanah terus menerus mengalami kenaikan, jadi saya piker Pak Jon adalah orang yang cerdas karena telah tepat memilih investasi tanah. Nah kebetulan saya punya tanah di sudut desa kita, karena niat saya hendak mau bantu Pak Jon juga, Pak Jon boleh membayar tanah saya tiap dua persegi tiap bulan.”
“Lho, bisa?”
“Bisa, Pak. Nanti akan saya buatkan pagar sebagai penanda tanah-tanah mana yang sudah Pak Jon bayar!”
“Baiklah, saya setuju. Anda baik sekali, Pak Jin. Saya tidak menyangka ada orang sebaik Anda di dunia ini!”
***
Purnama demi purnama berlalu, Jon rutin membayarkan dua meter persegi tanahnya dan Jin selalu memperbesar batas-batas pagar ditanahnya sebagai pertanda bahwa Jon telah membayarnya.
Tanah-tanah yang berada di dalam pagar milik Jon, sudah ia tanami pohon pisang. Sudah lima kali buah-buahnya berhasil ia petik.
Hingga pada suatu hari, ketika dia duduk santai di hari libur sambil mengipas-ngipaskan topinya di bawah pohon pisang kebunnya, Jun berlari terbirit-birit memanggil-manggil nama Jon.
“Jon gawat, Jon. Gawat ini sumpah!”
“Tenang Jun, tenang jun. Gawat kenapa to? Mbok ini minum dulu sama makan pisang masak ini, nih sekalian sudah tak kupasin!”
“Ini bukan waktunya kamu santai-santai makan pisang manis di sini, Jon!”
“Lho kenapa?”
“Ini tentang kebunmu ini!”
“Iya kebun ini, si Jin yang tiap bulan kau bayar dua meter persegi tanahnya, kini telah kabur. Uangmu dibawa lari Jon!”
“Lho, uang yang kubayarkan ke dia? Lah kan memang sudah jadi miliknya, bukan milikku lagi. Orang tak gunain buat bayar tanah yang kau injak ini, Jun!”
“Tapi, si Jin kabur, katanya pergi ke luar kota. Bahkan ada tetangga yang bilang dia sudah kabur ke luar negeri.”
Jon berpikir keras, ia masih belum menangkap mengapa temannya Jon sebegitu paniknya.
“Lho kalau begitu biarkan dia kabur, tidak masalah. Yang penting tanahnya kan tetap disini, tidak ia bawa kabur juga!”
“Surat-suratnya?”
“Lho saya itu beli tanah, ngapain ngomongin surat? Lagian Jin itu laki-laki, ngapain juga saya surat-suratan sama laki-laki, ih najis!”
Beberapa kodok penghuni kebun mulai berbunyi, jangkrik-jangkrik pun ikut bersaut-sautan. Lebah-lebah berdengung berputar-putar di salah satu sarang yang menggantung di pohon pisang.
Hewan-hewan itu tidak tahu apa yang dibicarakan oleh dua manusia. Yang mereka bisa lihat, satu berwajah bingung, satunya jatuh pingsan setelah mendengar jawaban dari manusia yang mereka kenal bernama Jon.
Purnama demi purnama berlalu, Jon rutin membayarkan dua meter persegi tanahnya dan Jin selalu memperbesar batas-batas pagar ditanahnya sebagai pertanda bahwa Jon telah membayarnya.
Tanah-tanah yang berada di dalam pagar milik Jon, sudah ia tanami pohon pisang. Sudah lima kali buah-buahnya berhasil ia petik.
Hingga pada suatu hari, ketika dia duduk santai di hari libur sambil mengipas-ngipaskan topinya di bawah pohon pisang kebunnya, Jun berlari terbirit-birit memanggil-manggil nama Jon.
“Jon gawat, Jon. Gawat ini sumpah!”
“Tenang Jun, tenang jun. Gawat kenapa to? Mbok ini minum dulu sama makan pisang masak ini, nih sekalian sudah tak kupasin!”
“Ini bukan waktunya kamu santai-santai makan pisang manis di sini, Jon!”
“Lho kenapa?”
“Ini tentang kebunmu ini!”
“Iya kebun ini, si Jin yang tiap bulan kau bayar dua meter persegi tanahnya, kini telah kabur. Uangmu dibawa lari Jon!”
“Lho, uang yang kubayarkan ke dia? Lah kan memang sudah jadi miliknya, bukan milikku lagi. Orang tak gunain buat bayar tanah yang kau injak ini, Jun!”
“Tapi, si Jin kabur, katanya pergi ke luar kota. Bahkan ada tetangga yang bilang dia sudah kabur ke luar negeri.”
Jon berpikir keras, ia masih belum menangkap mengapa temannya Jon sebegitu paniknya.
“Lho kalau begitu biarkan dia kabur, tidak masalah. Yang penting tanahnya kan tetap disini, tidak ia bawa kabur juga!”
“Surat-suratnya?”
“Lho saya itu beli tanah, ngapain ngomongin surat? Lagian Jin itu laki-laki, ngapain juga saya surat-suratan sama laki-laki, ih najis!”
Beberapa kodok penghuni kebun mulai berbunyi, jangkrik-jangkrik pun ikut bersaut-sautan. Lebah-lebah berdengung berputar-putar di salah satu sarang yang menggantung di pohon pisang.
Hewan-hewan itu tidak tahu apa yang dibicarakan oleh dua manusia. Yang mereka bisa lihat, satu berwajah bingung, satunya jatuh pingsan setelah mendengar jawaban dari manusia yang mereka kenal bernama Jon.
*****
Gambar dari sini