“Mukamu kau
apakan? Kusut begitu. Pandanganmu sayu, rambutmu juga acak-acakan, kau sudah
mandi? Atau jangan-jangan kau duduk di sini menemuiku dalam keadaan perut
kosong juga? Kau sedang ada masalah?” tanya Kiki.
Orang yang
ditanya hanya sedikit mendongak dan mengangguk lemas kepalanya. Ada begitu
banyak pertanyakan yang Kiki ajukan, dan hanya satu anggukan lemas yang ia
dapatkan sebagai jawaban. Entah anggukan tersebut untuk pertanyaan yang mana.
“Jadi sedang
ada masalah apa, Ke?” tanya Kiki sambil memandangi Keke yang sedang memakan
siomay yang Kiki tawarkan sebagai sarapan.
“Aku merasa
diriku banyak kekurangan, hidupku begitu kacau, banyak masalah, saking
banyaknya sampai saya tidak tahu harus bercerita darimana.”
Kiki tidak
berbicara, ia lebih memilih diam takzim mendengarkan, menunggu Keke melanjutkan
keluh kesahnya.
“Aku
berharap ada seseorang yang datang dan bisa mengubah hidupku. Ki, kau ini kan
punya kenalan banyak dari pengalaman organisasimu. Walikota, pengusaha, tokoh
masyarakat, dan aku yakin masih banyak lagi kenalanmu yang inspiratif dan
hebat-hebat. Mbok kamu kenalin ke aku, siapa tahu satu dari mereka mampu untuk
mengubah hidupku.”
“Hmmm, orang
yang bisa melakukan seperti itu, ya? Baik, ayo kita bertemu dengannya sekarang.”
“Sekarang,
mau pergi kemana kita? Ke rumah siapa? Sultan?” tanya Keke penasaran.
Kiki
menggelengkan kepala.
“Kita berdua
tidak akan pergi kemana-mana, biar dia yang kuajak untuk menemuimu di sini.
Jadi aku akan pergi sebentar dan kembali lagi ke sini sembari kau menghabiskan
siomay-mu.”
Kiki
kemudian bangkit dari bangku taman, ia balik badan. Tangannya mengisyaratkan
bahwa ia ingin pergi ke suatu tempat sebentar, dan Kiki berharap Keke mau untuk
menunggunya.
“Kiki sebenarnya
mau memperkenalkanku dengan siapa sih?” ujar lirih Keke.
Tak lama
kemudian, Kiki kembali.
“Lho,
katanya mau menunjukkanku orang yang bisa mengubah hidupku, tapi kok kau
sendirian?”
“Sebentar
lagi dia akan menemuimu, Ke.”
“Mana? Aku
tidak melihat siapa-siapa.”
Kiki merogoh
dan mengeluarkan sesuatu dari tas jinjing yang ia bawa. Ia hadapkan barang
tersebut tepat di depan wajah Keke.
Sebuah
cermin.
“Kalau kau
mencari seseorang yang bisa mengubah hidupmu, kau hanya perlu melihat cermin
untuk menemuinya, Ke.”
Gambar dari sini
